Delegasi Jepang Tinjau Proses Belajar LPK Kaizu Hamagi Gakkou Bengkulu

Oleh admin 21 Agu 2025, 13:13 WIB 33 Views

Bengkulu – Delegasi dari Jepang mengunjungi Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Kaizu Hamagi Gakkou yang berada di kawasan Lintas Nakau–Sebakul, Kota Bengkulu, Kamis (21/8).

Mereka adalah Delegasi Perusahaan Perhotelan Jepang IMF TOKYO, Endo Sachou (Direktur), dan Yamaguchi Fukusachou (Wakil Direktur)Kunjungan ini bertujuan meninjau langsung proses pembelajaran dan pelatihan calon Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dipersiapkan untuk bekerja secara legal di Negeri Sakura.

Kasi Penempatan dan Penggunaan Tenaga Kerja Asing (TKA) Disnakertrans Provinsi Bengkulu, Alpian Nasrullah, menyambut baik kunjungan ini. Menurutnya, pemerintah provinsi sangat mendukung program pelatihan dan penyaluran PMI legal ke luar negeri, khususnya ke Jepang.

“Minat pemuda Bengkulu untuk bekerja di Jepang sangat tinggi. Karena itu, keberadaan LPK seperti Kaizu ini sangat penting dalam memutus mata rantai pengiriman PMI ilegal. Kami di Disnaker juga terus diminta gubernur untuk memantau perkembangan LPK-LPK, agar benar-benar memberikan pendidikan dan pengawasan bagi calon pekerja migran,” ujar Alpian.

Sementara itu, Zaenal Arifin, Fasilitator TKA Jepang–Indonesia, menilai potensi pelatihan di Kaizu sangat besar. Ia mengapresiasi metode pengajaran yang dinilai lebih baik dibandingkan lembaga serupa di daerah lain.

“Cara mengajar di Kaizu ini berbeda. Mereka menekankan kualitas, termasuk bahasa Jepang hingga level N2. Kami berharap ke depan ujian GFT (Global Field Test) bisa dilaksanakan di Bengkulu, agar peserta tidak perlu ke Jakarta. Ini akan meringankan biaya sekaligus mempermudah proses,” ungkap Zaenal.

Zaenal juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir bagi calon PMI. Menurutnya, bekerja ke Jepang tidak sekadar mengejar gaji, tetapi juga menimba ilmu, memperdalam bahasa, serta membuka peluang untuk membangun lapangan kerja setelah kembali ke tanah air.

“Kalau hanya mengejar uang, hasilnya terbatas. Tetapi kalau mereka membawa pulang ilmu dan pengalaman, itu akan jadi modal besar untuk membuka usaha atau lapangan kerja baru di Bengkulu,” tambahnya.

Dalam kunjungan tersebut, delegasi Jepang juga melihat langsung proses belajar para peserta, termasuk praktik bahasa Jepang sehari-hari. Mereka menilai upaya Kaizu sudah sesuai standar, bahkan berpotensi menjadi basis pelatihan tenaga kerja berkualitas di wilayah Sumatera.

Afrianto Santoso Ketua Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Kaizu Hamagi Gakkou menyambut baik keseriusan pihak pemerintahan Jepang dalam penyediaan lapangan kerja. Menurutnya ini bukan sekadar kunjungan, pihak Jepang mungkin tidak akan datang.

“Mereka ingin langsung melihat calon karyawan mereka. Di Jepang, ada yang sudah melewati tahap wawancara dan tinggal menunggu keberangkatan. Dengan begitu, harapannya semua calon yang ada di sini bisa diarahkan langsung ke perusahaan mereka,” jelasnya.

“Apalagi sebelumnya, kami sudah memberangkatkan enam siswa. Dari situ, mereka tampaknya yakin dengan kemampuan kita. Mudah-mudahan, khususnya untuk Bengkulu, hal ini menjadi tahap awal untuk semakin banyak merekrut anak-anak muda Bengkulu agar bisa bekerja di hotel bintang lima di Jepang,” ungkapnya.

Ia membuktikan, ini bukan sekadar omongan karena yang diutamakan adalah pembuktian. “Kami selalu berusaha membuktikan bahwa semakin banyak anak muda Bengkulu, baik alumni SMA maupun S1, dapat terhindar dari pengangguran di Indonesia, khususnya di Bengkulu. Mereka bisa bekerja di Jepang dengan visa Tokutei Ginou atau visa Gijinkoku bagi pemegang D3 maupun S1,” papar Afrianto.

Terkait fasilitas dan persiapan dari LPK ini sendiri menyiapkan SDM PMI legal, termasuk semua kebutuhan yang akan mereka hadapi di Jepang. “Misalnya, pelatihan bed making dan budaya kerja di hotel sudah diajarkan sejak awal, sehingga saat tiba di Jepang mereka sudah memahami teori dan tinggal mempraktikkannya tanpa kebingungan,” jelasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.