Eks Pekerja Migran Asal Bengkulu Bangun LPK, Buka Jalan Kerja dan Investasi Jepang bagi Generasi Muda

Oleh admin 21 Jul 2026, 13:36 WIB 580 Views

Bengkulu – Berbekal pengalaman bekerja selama tiga tahun di Jepang, Afrianto Santoso memilih pulang ke kampung halaman untuk membangun sumber daya manusia di Bengkulu.

Mantan pekerja migran itu mendirikan Lembaga Pendidikan dan Keterampilan (LPK) Kaizu Hamagi Gakkou yang kini telah meluluskan ratusan peserta didik dan menjadi jembatan kerja sama dengan investor asal Jepang.

LPK yang berlokasi di Kelurahan Surabaya, Kecamatan Sungai Serut, Kota Bengkulu itu memanfaatkan empat unit ruko sebagai ruang belajar bahasa dan budaya Jepang. Lembaga tersebut secara khusus menyiapkan calon pekerja migran agar memiliki kemampuan bahasa, keterampilan, serta pemahaman budaya sebelum berangkat ke Jepang.

Afrianto merupakan lulusan SMKN 2 Padang Harapan Bengkulu angkatan 2013. Keinginannya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi terpaksa tertunda karena keterbatasan ekonomi sehingga ia memilih bekerja demi membantu keluarga.

Sebelum berangkat ke Jepang, ia sempat menjalani berbagai pekerjaan, mulai dari petugas keamanan hingga tenaga penjualan. Kesempatan menjadi pekerja migran kemudian membawanya belajar bahasa Jepang di Sukoharjo karena saat itu akses informasi dan pelatihan di Bengkulu masih sangat terbatas.

Perjalanannya menuju Jepang tidak mudah. Selain terkendala biaya, ia juga menghadapi stigma negatif terhadap pekerja migran asal Bengkulu yang saat itu dinilai kerap melanggar kontrak kerja. Meski sempat disarankan mengganti identitas daerah asal, Afrianto memilih tetap menggunakan KTP Bengkulu dan akhirnya lolos seleksi bekerja sebagai tenaga pengelasan.

Pada Juli 2017, ia berangkat ke Jepang dengan visa magang sebelum bekerja secara penuh di perusahaan konstruksi. Selama bekerja, ia menerima gaji bersih sekitar Rp13 juta hingga Rp15 juta per bulan, sementara masa kerjanya sempat diperpanjang akibat pandemi Covid-19 hingga akhirnya kembali ke Bengkulu pada 2021.

Sepulang dari Jepang, Afrianto mulai membantu masyarakat Bengkulu memperoleh informasi yang benar mengenai peluang kerja di Negeri Sakura. Pengalaman itu kemudian melahirkan LPK Kaizu Hamagi Gakkou pada 2022 sebagai wadah pembelajaran bahasa Jepang sekaligus konsultasi bagi calon pekerja migran agar terhindar dari praktik penipuan.

Hingga kini, LPK tersebut telah memiliki sekitar 250 alumni, dengan 50 orang di antaranya telah bekerja di Jepang. Peserta didik tidak hanya berasal dari Bengkulu, tetapi juga dari Sumatera Selatan dan Sumatera Utara, didampingi delapan tenaga pengajar yang sebagian besar merupakan mantan pekerja migran di Jepang.

Selain mencetak tenaga kerja terampil, Afrianto juga membangun jejaring yang membuka peluang investasi Jepang di Bengkulu. Ia memfasilitasi pertemuan investor konstruksi asal Tokyo dengan Pemerintah Provinsi Bengkulu untuk menjajaki kerja sama di sektor konstruksi, perumahan, pariwisata, hingga penyediaan air bersih.

Di bidang pendidikan dan hubungan antardaerah, pihaknya juga mendorong terwujudnya kerja sama sister city antara Hiroshima dengan Pemerintah Kota Bengkulu dan Kabupaten Bengkulu Tengah. Menurut Afrianto, seluruh peluang tersebut lahir dari relasi yang dibangunnya selama bekerja di Jepang.

Ia menambahkan, kebutuhan tenaga kerja Indonesia di Jepang masih sangat besar, sehingga peluang bagi generasi muda tetap terbuka. Karena itu, ia mengajak calon pekerja migran mempersiapkan kemampuan bahasa, kesehatan, dan mental agar mampu bersaing dan bekerja secara profesional.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin penulis.